Galgendu Ketua Umum GMRI Menyatukan Energi Spiritual -->

Breaking news

News
Loading...

Galgendu Ketua Umum GMRI Menyatukan Energi Spiritual

By: Tim BNNews
Friday, 3 September 2021

Catatan Jacob Ereste dari Safari GMRI (1) :


Sultan Saladin dan Eko Sriyanto Galgendu Ketua Umum GMRI Menyatukan Energi Spiritual Demi Bangsa dan Negara Indonesia


Cirebon - Sultan Saladin Cirebon memang dikenal suka nongkrong dengan Abang Becak di warung kopi. Karena dari pergaulan dengan wong cilik itu, menurut Sultan Saladin dirinya justru merasa dapat menyerap banyaknya energi sekaligus  pengalaman dan pelajaran langsung dari wong cilik. Satu diantara rakyat kecil itu adalah Abang Becak ditempat biasanya mangkal bersama rakyat jelata pada masa pandemi ini yang selalu dapat bersyukur hanya karena bisa memperoleh rejeki, meski cuma sedikit dalam bentuk satu kilogram beras setelah seharian bekerja mencari nafkah dengan becaknya.


Pelajaran dari Abang Becak yang senantiasa selalu bisa bersyukur ini, jelas bisa menjadi contoh nyata dari laku spiritual yang dilakukan warga masyarakat Indonesia yang memiliki sifat dan sikap religius. Jadi  laku spititual yang terpusat pada rasa dan suasana hati merupakan laku spiritual paling  sederhana yang dapat dilakukan oleh setiap orang. Dan laku spiritual tidak atas dasar otak yang cuma mampu berpikir, ungkap Sultan Saladin sambil menghirup kopi sulingan yang dia buat sendiri itu. Kopi sulingan spesial yang ikut menjadi suguhan saat menerima Tim Safari GMRI malam Jum'at, 2 September 2021 hingga melepas Tim GMRI untuk tirakat ke makam Sunan Gunung Jati di Cirebon.


Dalam melakoni spiritual, getaran rasa itu menjadi pemimpin logika. Bukan sebaliknya, karena logika tak mampu untuk memimpin getaran hati dalam laku spiritual, kata Sultan Saladin, saat dialog santai di Coffe Asep yang dikelola oleh sang istri.


Menurut Sultan Saladin, getaran rasa yang sejati dari hati itu seperti yang diungkapkan oleh "Maha Dewa Spiritual Indonesia" Eko Sriyanto Gangendu, Ketua Umum GMRI, yang  dipuji secara spontan oleh Sultan Saladin sudah berada pada tataran para Dewa dalam laku spiritualnya. 


Sementara itu, Eko Sriyanto Galgendu  yang mengamini bahwa getaran bisikan hati itu merupakan titik pusat kendali dari laku spiritual bagi setiap orang yang melakoni spiritual dengan serius, pun mengagumi sikap perkawanan antara mereka yang telah terjalin sejak 20 tahun silam itu, seperti kebersamaan dalam upaya menyelesaikan masalah di Teluk Banoa beberapa tahun silam.


Pilihan sikap dari Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI)  menentukan etape  utama dari leluhur Kerajaan Cirebon sebagai titik awal dimulainya safari keliling Jawa, bukan karena kebetulan, karena Eko Sriyanto Galgendu pun melakukannya berdasarkan petunjuk, termasuk ziarah ke pemakaman para leluhur dari Sunan Gunung Jati yang memiliki kekuatan spiritual yang sangat luar biasa itu.


Artinya, kecuali silaturdachmi -- sebagai wujud  ukhuwah -- GMRI pun berharap memperoleh restu dan petunjuk dari para leluhur jagat yang mengayomi warga bangsa Jawa Barat. Dan Eko Sriyanto Galgendu yang dapat disebut mewakili trah Matatam (Jawa Tengah) memang tidak lagi terbilang sebagai sahabat, tetapi telah menjadi kerabat Keraton Kanoman seperti kedekatan ikatannya dengan Susuhunan Paku Buwono XII. Setidaknya, surat wasiat yang ada digenggaman Eko Sriyanto Galgendu itu tercatat secara resmi dalam akte notaris yang dipegang Ketua Umum GMRI, lebih dari cukup menjadi semacam "pangestu" untuk mewujudkan amanah yang diemban oleh GMRI.


Simbolika dalam kebersamaan GMRI dengan anak cucu Sunan Gunungjati yang disambut suka cita oleh Sultan Saladin, disampul oleh ziarah dan do'a khusus di makam tokoh spiritual leluhur pengayom jagat Jawa Barat serta seluruh anak cucu Sunan yang bergelar Maulana Syarif Hidayatullah. Pasti ketauladanan semasa hidupnya sang Sunan telah meninggalkan banyak tuntunan maupun ajaran spiritual yang tidak terkira. Karena itu para peziarah yang terus berdatangan  untuk mendo'akan  (Sunan) Syarif Hidayatullah terus mengalir seperti air sampai hari ini, tidak berhenti sebatas Jawa Barat semata, tapi juga mulai ujung Lampung sampai ke pelosok Aceh. Bahkan para peziarah datang dari berbagai daerah lain dari ujung Timur hingga ujung Barat Nusantara. (rs/*)