Siklus 7 Abad Menuju Babak Baru Abad ke-21 Masa Kejayaan Kembali Bangsa Nusantara -->

Breaking news

News
Loading...

Siklus 7 Abad Menuju Babak Baru Abad ke-21 Masa Kejayaan Kembali Bangsa Nusantara

By: Tim BNNews
Saturday, 21 August 2021

Jacob Ereste ;


Seingat saya, WS. Rendra sudah sejak lama mengatakan bahwa kita telah menjadi asing di tanah leluhur sendiri. Agaknya, itulah narasi yang menunjuk agar segenap warga bangsa Indonesia kembali pada jati diri yang otentik dan mengakar dalam budaya warisan para leluhur. Meski tetap harus dikreasikan untuk menghadapi tuntutan maupun tantangan jaman.


Mas Habib Khirzin pun, seingat saya sudah pula memaparkan ikhwal momentum pencerahan dan pergerakan peradaban --meski  tak implisit menerasikan nilai-nilai spiritual --karena Profesor yang sangat saya kagumi ini-- memang memiliki pramasastra yang kuat menyatu dengan cakrawala pandang keagamaannya yang maha luas.


Dimensi spiritual penyair dan dramawan WS. Rendra, misalnya yang bergelar Si Burung Merak itu juga menyadari bahwa bukan maut yang menggetarkan hati, tetapi hidup yang tidak hidup karena kehilangan daya dan fitrahnya. Hingga akhirnya penyair yang terkenal dengan karya-karya pamflet pembangunan dalam puisi ini pun berujar, kesadaran adalah matahari.

Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.


Chairil Anwar, penyair yang digumi oleh WS. Rendra itu pun, melantunkan cintanya kepada Tuhan, seperti rasa kangen penyair sufi Jalaluddin Rumi. Dalam puisi "Do'a" jika tak keliru  Chairil Anwar mendedahkan pengakuannya saat menyapa Tuhan dalam nada yang liris yang khas.


Tuhanku/ Dalam termangu/ Aku masih menyebut namamu/ Biar susah sungguh/ Mengingat Kau penuh seluruh


Tuhanku/ Cahaya Mu panas suci/Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi.


Tuhanku/ Aku hilang bentuk remuk.


Tuhanku/ Aku mengembara di negeri asing


Tuhanku/ Di pintu Mu aku mengetuk/Aku tidak bisa berpaling.


Tak kalah dakhsyah torehan pena Buya Hamka. Ulama besar yang ugahari ini padat dan sarat memuat nilai-nilai spiritual yang sangat luar biasa untuk jadi renungan dalam suasana yang penat guna mengisi hati yang kosong akibat guncangan revolusi industri babak keempat pada era milineal hari ini.


Kata Buya Hamka, cinta itu adalah peperangan, yakni perang yang hebat dalam rohani setiap manusia. Jika ia menang, maka ia akan mendapatkan ketulusan yang ikhlas, luas pikiran, sabar dan tenang hatinya. Namun bila kalah, maka yang akan dia temukan adalah orang yang putus asa, sesat, lemah jiwa dan hatinya, kecil perasaannya dan bahkan terkadang hilang keyakinan dan kepercayaan dirinya.


Dalam tampilan corak dan warna yang lain,  agak beda pesan-pesan spiritual Raden Ngabehi Rangga Warsito, seorang pujangga Jawa yang hidup di lingkungan Kasunanan Surakarta. Pujangga besar terakhir dari tanah Jawa ini, memiliki

kemampuan linuih  meramalkan apa yang akan terjadi di hari kemudian. Kecuali itu, dia pun meyakinkan akan segera muncul seorang pemimpin yang bersenjata dzikir. 


Joyoboyo bersama Ronggo Warsito sudah memaparkan  ramalan mereka akan ada jaman kalabendu. Artinya jaman yang penuh kesengsaraan. Karena fitnah akan menebar dimana-mana. Keluarga terpecah belah. Kehidupan menjadi sangat susah. Kolusi, korupsi dan nepotisme merajalela. Tentu saja bukan hanya di Solo, tapi juga di seluruh penjuru jagat nusantara ini. Cilakanya, para pemimpin hilang kewibawaannya. Zaman kalabendu terjadi, lantaran manusia menjadi sangat rakus. Serakah. Mempunya hati yang gampang panas, karena terbakar oleh nafsu angkara murka. Bahkan manusia (Indonesia) hanya berpikir sebatas untuk menjadi cepat kaya. Maka itu korupsi merajalela. Karena pertahanan budaya yang mengakar dalam spiritualitas tercerabut oleh kapitalisme yang telah berubah menjadi hantu berjuluk neolib.


Itulah akibatnya, karena berlomba-lomba ingin cepat kaya agar hidup bergelimangan harta dan kayaan sekedar untuk bermewah-mewahan, meski dampak buruknya bisa harus merugikan orang lain.


Selain itu, banyak pula bapak-bapak yang lupa pada anaknya. Sementara anak banayk yang  berani melawan orang tuanya. Ada juga saudara yang tega menghajar saudara sendiri. Entah dalam politik, sengketa ekonomi  bahkan untuk hal yang sepele, hanya lantaran berpikir dangkal. Tidak jembar cakrawala pandangnyam Bahkan dalam keluarga ada yang tega untuk mencederai saudaranya yang lain. Yang tidak kalah tragis adalah banyak murid yang berani atau bahkan menganiaya sang guru.


Jadi memang suasana kekacauan dalam semua taranan nasyarakat sudah hancur. Tak ada lagi unggah ungguh untuk mematuhi adat sopan ssntun dalam tata pergaulan serta interaksi dengan pihak lain. Seolah-olah, semua harus direbut dengan cara dan upayaodel apapun. Karena itu, tata hubungan yang harmoni dengan alam dan lingkungan pun ikut terabaikan, bahkan ada kenderungan  merusak hanya sekedar untuk  memuaskan birahi sendiri.


Meski begitu, menurut Ronggo Warsito, zaman yang penuh penderitaan itu akan segera sirna. Masalah, ramalan terhadap sirnanya kekacauan tradisi, budaya serta tatanan adat istiadat warisan dari para leluhur kita itu -- yang nota bene cukup arif dan bijaksana -- kapan. Lalu mengapa seperti terkesan jadi tenggelam dalam arus global budaya modern dengan segenap dampak bawaan yang melanda seluruh jagat, termasuk jagat batin yang bersemayam dalam jiwa untuk mewadahi moral, etika dan mental yang terbungkus oleh akhlak.


Menurut versi budayawan Jawa, KP Norman Hadinegoro,  makna yang terkandung di dalam ramalan Ronggowarsito ini atas izin Allah SWT --zaman kalabendu -- akan segera hilang berganti zaman baru,  dimana tanah Jawa (Indonesia) menjadi makmur. Kutukan terhadao bumi pun hilang. Dan angkara murka pun mereda.


Dalam versi GMRI, itu semua akan segera maujud ketika gerakan kebangkitan kesadaran spiritual bangsa Indonesia terjadi. Perubahan menuju pemulihan dan pembenahan hingga perbaikan pada segenap aspek hidup dan kehidupan mulai berproses mengikuti ritme siklus bumi, siklus waktu dan siklus jaman. Sebab kesasaran spiritual itu juga harus beranjak dari kesadaran pemahaman terhadap perubahan jaman, kata Eko Sriyanto Galgendu. Karena itu dalam gerakan kebangkitan kesadaran spiritual bangsa Indonesia akan meliputi napak tilas jaman, setidaknya sejak jaman Raja Tarumanegara di Tanah Pasundan dan  Sriwijaya di Sumatra hingga Majapahit di Jawa Timut yang pernah berjaya, kemudian runtuh sampai memasuki  awal dari siklus 7  (tujuh) abad pada babak ketiga sekarang ini (abad 21) yang diyakini olah banyak futurolog akan segera memasuki babak baru.


Setidaknya siklus 7 (tujuh) abad yang telah menandai pasang surutnya masa kejayaan bangsa nusantara sudah memasuki babak ketiga yang ditandai beragam fenomena yang meyakinkan,  untuk kemudian seperti yang terus dipompa semangatnya oleh GMRI untuk tetus melakukan gerakan kebangkitan kesadaran spiritual segenap warga bangsa Indonesia untuk tampil menjadi obor penerang jagat raya. Begitulah bangsa dan negara Indonesia harus optimis mampu menjadi mercu suar dunia mulai dari Timur hinggs ke Barat. Amin !



Banten, 19 Agustus 2021