Menuju Rumah Tuhan Bersama Kaum Sufi -->

Breaking news

News
Loading...

Menuju Rumah Tuhan Bersama Kaum Sufi

By: Tim BNNews
Sunday, 22 August 2021


Oleh: Jacob Ereste :


Memang jalan menuju rumah Tuhan dapat dilakukan bersama kaum sufi. Karenanya, klaim terhadap sufisme tidak bisa dimonopoli oleh agama langit manapun, termasuk bangsa, negara serta keturunan Nabi sekalipun. Karena para pelaku spiritual bisa berdatangan dari delapan penjuru mata angin yang mengetuk lalu masuk ke mata hati hingga ruh milik Tuhan yang ditipkan sementara ditipkan pada manusia.


Makna Al-Kitab menurut para Sufi, kata Prof. Dr Nasaruddin Umar (Republika.Co.Id, 29 May 2012) dalam perspektif fukaha dan teolog sering sekali diidentikkan dengan Alqur'an yang tidak cuma dipahami sebatas Kitab Suci, namun lebih luas meliputi alam dan jagat raya serta manusia.


Al-kitab menurut kaum sufi meliputi makrokosmos, mikrokismos dan wahyu yang dibukukan. Sehingga Al-kitab dalam bentuk makrokosmos dipersepsikan sebagai bagian dari Kitabullah.


Profesor Nasaruddin Umar yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta ini menunjuk ayat dari Alqur'an yang menyatakan bahwa "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada setiap diri mereka juga, sehingga akan jelas bagi mereka  bahwa Alqur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (QS. Fushshilat 53). Artinya, ayat-ayat bumi dan ayat-ayat diri seperti yang acap disebutkan oleh kaum sufi, termasuk Eko Sriyanto Galgendu yang menggagas gerakan kebangkitan kesadaran spiritual bangsa Indonesia dengan GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) makin jelas maksudnya adalah sebagai tanta-tanda yang ada di alam dan disetiap diri manusia yang memiliki arti dapat untuk dapat menjelaskan kebenaran dari Keaguangan Tuhan Sang Maha Pencipta dan Penguasa Alam Jagat Raya, termasuk diri dari munusia yang ada di muka bumi.


Seperti dalam Surat Yunus ayat 6 yang mengungkap kata perintah untuk membaca (Surah Al-Alaq ayat 1) harus bisa dipahami bukan sebagai perintah untuk membaca Alqur'an saja. Seperti saat Alqur'an belum diturunkan, perintah untuk membaca itu dahulu lebih mengarah untuk membaca alam raya serta makrokosmos seperti ayat-ayat yang dimaksudkan diatas. Dan Nabi Muhammad SAW sendiri jelas buta huruf. Artinya tidak mampu membaca dan menulis dengan cara lisan. Kiranya demikian pula Nabi Isa AS yang diyakini oleh saudara kita dari Agama Nasrani atau Kristen.


Jadi yang mampu  dibaca oleh para Nabi pada masa itu, kata Profesor Nasaruddin Umar adalah fenomena alam. Demikian pula kata dari dzalika yang terdapat dalam Alqur'an (Surat Al-Baqarah ayat 2) bahwa perintah membaca itu  maksudnya bukan untuk Alqur'an. Karena dalam kalimat hadza itu menunjuk sesuatu yang jauh, bukan Al-Kitab yang ada dihadapan kita.


Jadi jelas kedalaman dari pemahaman kaum sufi mengembara dalam ayat-ayat Illahi Rabbi itu, mendedahkan keseriusan mereka untuk mendekat kepada Tuhan. Sehingga dalam tradisi dan budaya Kraton pun seorang raja dapat menyandang gelar Sayidin Penatagama Khalifatullah. Maksudnya jelas -- seperti yang disandang oleh Sultan Ngayogyajarta Hafiningrat itu -- represenasi sosok dari pengayom seluruh rakyat yang meliputi hal ikhwal masalah keagamaan. Jadi tidak cuma sebatas memberi perlindungann secara fisik belaka seperti yang dimaksud dari gelar Senopati Ing-Ngalaga itu.


Demikian pula dengan apa yang dimaksud dari "zalika al Kitab la raiba fihi hudan li al-muttaqin" (Kitab yang tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa). Artinya jelas bukan hanya Alqur'an, tetapi  juga Kitab lain yang dapat pula dipahami, kata Profesor Nasaruddin Umar yang menandai makrokosmos atau Lauh Al-Mahfudz.


Manusia sebagai bentuk lain dari Alkitab itu -- yang dalam bahasa spiritual Eko Sriyanto Galgendu adalah ayat-ayat diri dan ayat-ayat bumi -- selaras dengan pendapat Prof. Nssaruddin Umar bahwa pada hakekatnya manusia yang sesungguhnya itu adalah seperti dimaksud oleh mikrokosmos (al-alam al-shagir) karena dalam diri manusia telah tersimpul semua unsur makrokosmos. Ibaratnya sosok manusia itu seperti buku yang menyimpan segudang rahasia   Tuhan. Oleh karena itu salah satu hadist yang sangat populer di kalangan kaum sufi kata Profesor Nasaruddin Umar adalah "Nan arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu". Karena bagi siapapun yang telah memahami dirinya, maka dia akan memahami Tuhan. Kecuali itu  menurut Ibnu Arabi, manusia itu merupakan salinan dari segala sesuatu yang dapat dijumpai juga di dalam  hadirat Illahi Rabbi yang lengkap merefleksikan keagungan-Nya.


Dalam risalahnya sang Profesor juga meyakinkan bahwa Nabi Isa AS yang sakral sebagai Yesus Kristus dalam keyakinan Ummat Kristen sungguh benar-benar disucikan sebagai anak Allah. Dan yang istimewa dari Nabi Isa AS juga dipercaya oleh ummat beragama sebagai anak Maryam tanpa ayah. Begitulah simbolik dari Keagungan Tuhan Yang  Maha Pengasih dan Maha Pemaaf sekaligus Maha Penyayang. Sehingga Dia pun mengisyatakan pada manusia ; la yamassuhu illa al-muthahharun (jangan menyentuh Alqur'an sebelum  dalam keadaan bersih). Artinya, boleh saja ada yang memahami kesucisn diri itu  sebatas berwudhu dalam Islam untuk menunaikan sholat sebagai ibadhah wajib, tapi lebih dari itu  artinya dalam prmahsman kaum sufi adalah untuk  mempersiapkan diri memasuki  suasana bathin dan pikiran yang bersih -- suci dan jernih -- bukan hanya sebatas fisik.


Kiranya begitulah  jalan dan cara kaum sufi menuju Tuhan, seperti cara dari para saudagar misalnya dengan mrnghibahkan atau mewajafkan beragam jenis kekayaan -- usng dan tanah atau bahkan membuat tempst ibadhah -- hingga sedekah, santunan untuk pesantren dan sebagainya dari harta kekayaan miliknya. Maka dapatlah segera dipahami dalam perspektif kapitalistik, akan sulit diterima karena mereka yang memiliki orientasi materialistik itu jelas tiak mampu menembus  pemahaman spiritual dengan cara yang berbeda dari sikap moral dan mentalitas dasar pemikirannya seperti kesulitan orang-orang yang tidak memiliki dasar kemampun untuk memahami cara berpikir kaum sufi. Yautu orang yang memiilih cara hidup agar dapat lebih dekat dengan Tuhan.


Menurut Eko Sriyanto Galgendu, ketika seseorang telah asyik dengan Tuhan, sungguh tidak lagi sempat -- atau bahkan terlintas dalam pikirannya -- birani untuk mengentit dana bantuan sosial, atau bahkan berhasrat untuk khianat pada amanah rakyat. Maka itu, lewat beragam macam pilihan, GMRI ingin terus membangkitkan  gerakan kesadaran spiritual bangsa Indonesia dengan   caranya masing-masing, seperti bakti sosial, peduli pada alam dan lingkungan sesuai dengan kemampuan dan kemauan atau bahkan dengan  kesukaannya sendiri untuk bisa berbuat baik dan lebih banyak kepada siapapun dan dimanapun serta untuk apapun bentuknya yang bermanfaat bagi orang banyak.

Banten, 21 Agustus 2021