Mengutip hadis, pernyataan Wapres Ma'ruf Amin jadi sorotan Netizen? Jubir jelaskan -->

Breaking news

News
Loading...

Mengutip hadis, pernyataan Wapres Ma'ruf Amin jadi sorotan Netizen? Jubir jelaskan

By: Tim BNNews
Monday, 9 August 2021

Dok. istimewa (Jubir Masduki)


Apa yang disampaikan Ma'ruf itu merupakan kutipan dari hadis. 


Jakarta - Juru bicara Wakil Presiden Ma'ruf Amin, Masduki Baidlowi, memberikan klarifikasi terkait pernyataan Ma'ruf soal wafatnya ulama dan wafatnya satu kabilah yang menuai sorotan di media sosial. Masduki menegaskan Ma'ruf tidak bermaksud merendahkan siapa pun.


"Pernyataan Wapres yang mengutip hadis riwayat Al-Thabrani itu bukan dengan intensi merendahkan siapapun. Sekali lagi, itu kutipan hadis. Bukan pernyataan pribadi Wapres," kata Masduki dalam keterangan tertulis, Senin (9/8/2021).


Masduki menjelaskan apa yang disampaikan Ma'ruf itu merupakan kutipan dari hadis. Hadis itu kemudian diterjemahkan dan tidak ditambah-tambahi.


"Namun pengutipan hadis itu perlu dipahami dalam konteks sambutan Wapres lebih utuh. Konteksnya adalah untuk memberi gambaran tentang betapa dalamnya rasa kehilangan kita dengan wafatnya ulama," ujar Masduki.


Pernyataan itu sebelumnya disampaikan Ma'ruf saat memberikan sambutan dalam program Baznas yang bertajuk 'Kita Jaga Kyai'. Masduki menjelaskan dalam sambutan itu, Ma'ruf tidak membatasi ahli ilmu hanya pada bidang agama, tapi juga ilmuwan dan cendekiawan secara luas.


"Karena dalam acara Baznas, yang mengelola dana sosial Islam, yakni zakat, infak, dan sedekah, Wapres merujuk perspektif Islam tentang musibah wafatnya ilmuwan, para ahli ilmu, para alim, dan ulama," ujar Masduki.


Selain itu, sambung Masduki, Ma'ruf menjelaskan mengenai peran penting ulama dalam tiga aspek, yaitu keagamaan, peradaban, dan kebangsaan. Dari sisi keagamaan, ulama adalah ahli waris para nabi. Dari sisi peradaban, ulama berperan dalam transformasi ilmu dan peradaban. Dari sisi kebangsaan, ulama mengajarkan sikap patriotik, cinta tanah air, bela negara, dan perjuangan kemerdekaan.


Berikut kutipan pernyataan Ma'ruf dalam acara tersebut disertai hadis yang dikutip:


"Para kiai dan ulama sebagai pewaris para Nabi telah mentransformasikan ilmu dan peradaban, menjaga, mendidik dan melakukan berbagai perbaikan di segala bidang," kata Wapres.


"Para kyai dan ulama juga mengajarkan sikap patriotik, cinta tanah air (hubbul wathan) dan bela negara. Jasa dan peran besar para kyai, para ulama dan pondok pesantren terhadap perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa sangat besar. Tidak bisa dihargai dengan sekadar materi," ungkap Wapres.


Hadis yang dikutip Ma'ruf:


مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ


"Meninggalnya seorang ulama adalah musibah yang tak tergantikan, sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal, laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih ringan dari meninggalnya satu orang ulama." (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman dari Abu Darda').


Masduki mengatakan maksud dari hadis itu bukan merendahkan wafatnya satu kabilah. Hadis itu, sambung Masduki, semata-mata sebagai ungkapan ilustratif atau kiasan untuk menghargai sosok ulama dan ilmuwan di tengah masyarakat.


"Wafatnya orang satu suku atau satu kabilah jelas sebuah musibah besar, sebuah kehilangan besar, dan wafatnya seorang ulama adalah musibah yang jauh lebih besar. Demikian pemaknaannya. Jadi, sama sekali bukan untuk merendahkan peristiwa wafatnya orang satu suku," ujar Masduki.


"Jangankan kehilangan nyawa satu suku, dalam Islam, kehilangan satu nyawa saja adalah sebuah catatan serius. Tidak mungkin direndahkan. Maka satu dari lima tujuan utama syariah atau maqashidus syari'ah adalah menjaga jiwa (hifdhun nafs). Surat Al Maidah ayat 32 menyatakan, siapa yang membunuh satu orang secara tidak sah, setara dengan membunuh seluruh manusia," imbuh Masduki. (rs/dn)