Menurut legenda Orang pertama menunaikan Ibadah Haji putra Raja Galuh, Ciamis? -->

Breaking news

News
Loading...

Menurut legenda Orang pertama menunaikan Ibadah Haji putra Raja Galuh, Ciamis?

By: Tim BNNews
Thursday, 22 July 2021


Dadi Darmadi, peneliti pada Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta (Dok.ist)


Jakarta - Sejak muda, Bratalegawa gemar bertualang hingga jauh dari negerinya di Kerajaan Galuh di Ciamis, Jawa Barat. Ia adalah putra Raja Galuh, Mangkubumi Suradipati (Prabu Bunisora, yang dikenal dengan julukan Kuda Lalean). Bratalegawa lahir pada tahun 1272 Saka (1350 M). Ia adalah sepupu Prabu Niskala Wastu Kancana, kakek Raden Pamanah Rasa yang bergelar Prabu Dewataprana Sri Baduga Maharaja Pajajaran atau Prabu Siliwangi.


Bratalegawa lebih suka menjadi saudagar ketimbang tinggal di keraton untuk mewarisi kekuasaan ayahnya. Ia dikenal memiliki banyak kapal dagang, perhiasan, dan rumah peristirahatan di lereng gunung atau tepi pantai. Ia biasa pergi berlayar ke Pulau Sumatera, Malaka, China, Campa, India, Sri Langka, Persia, hingga ke Semenanjung Arab. Ia banyak menjalin hubungan persahabatan dengan para saudagar dan pembesar setempat.


Ketika berada di Gujarat (India), Bratalegawa bersahabat dengan seorang saudagar kaya bernama Muhammad. Di sana, ia masuk Islam dan menikah dengan Farhana, yang tak lain anak Muhammad. Setelah itu, Bratalegawa kembali berlayar berdagang ditemani istrinya menuju Arab. Selain berniaga, Bratalegawa sempat menunaikan ibadah haji dan belajar agama Islam.


Itu agak sedikit susah dilacak karena, kalau menurut catatan sejarah, orang Nusantara naik haji yang pertama itu diduga mulai abad ke-15 dan ke-16. Tapi itu pun ceritanya masih penuh legenda gitu,”


Selama berada di Kota Suci Mekah, Bratalegawa mengubah namanya menjadi Haji Baharuddin al-Jawi. Setelah cukup menimba ilmunya, ia pulang ke tanah kelahirannya di Kawali, ibu kota Kerajaan Galuh, ditemani Farhana dan anaknya, Ahmad. Kedatangan mereka saat itu sangat disambut gembira sanak-saudara dan kerabat kerajaan yang masih menganut agama Hindu dan Sunda Wiwitan.


Di wilayah Kerajaan Galuh, Bratalegawa lebih dikenal dengan sebutan Haji Purwa Galuh. Kata ‘purwa’ disematkan pada dirinya karena merupakan orang pertama yang bergelar haji di daerah Pasundan itu. Bratalegawa, Farhana, dan anaknya Ahmad tak tinggal di keraton karena memilih berdakwah ke berbagai daerah tatar Sunda hingga akhir hayatnya.


Sosok Bratalegawa sekelumit diceritakan dalam buku ‘Sejarah Jawa Barat, Penelusuran Masa Silam’ (1984), yang ditulis Saleh Danasasmita, Yoseph Iskandar, dan Enoch Atmadibrata. Juga dalam buku ‘Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat’ (2011), yang disusun Nina Herlina Lubis 2011. Kedua buku itu merujuk pada sejumlah naskah kuno, seperti Carita Parahiyangan, Naskah Pangeran Wangsakerta, dan naskah kuno lainnya.


Dari kedua buku itu diketahui, wilayah tanah Pasundan sudah bersentuhan dengan Islam sejak kembalinya Bratalegawa dari Mekah. Artinya, masuknya Islam ke wilayah itu lebih dulu seratus tahun sebelum munculnya dakwah para ulama Wali Songo pada awal abad ke-15 hingga 16 Masehi. Tapi betulkan Bratalegawa satu-satunya sosok yang berangkat haji saat itu, ketika Pulau Jawa atau kepulauan Nusantara juga mulai tersentuh dakwah Islam?


“Itu agak sedikit susah dilacak karena, kalau menurut catatan sejarah, orang Nusantara naik haji yang pertama itu diduga mulai abad ke-15 dan ke-16. Tapi itu pun ceritanya masih penuh legenda gitu,” ungkap peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Dadi Darmadi kepada detikX, Selasa, 20 Juli 2021.


Menurut Dadi, selama ini bukti catatan sejarah terkait orang Nusantara pertama berangkat haji ditulis para pelancong yang berasal dari Eropa atau Portugis. Pertemuan mereka dengan orang Nusantara terjadi di wilayah kekuasaan Turki. “Katanya ada orang Jawa. Waktu itu kan menyebut Nusantara juga orang lain bingung menyebutnya abad dulu,” imbuh dosen Fakultas Usuludin Universitas Islam Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini.


Dadi mengatakan hampir semua orang Nusantara yang berada di Mekah disebut sebagai orang Jawa atau Al-Jawi waktu itu, walaupun mereka berasal dari luar Pulau Jawa. Seperti halnya dengan sebutan Bratalegawa sebagai Haji Baharuddin al-Jawi. Pada era itu, sebutan Jawa (Al-Jawi) juga mencakup orang-orang yang berasal dari Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia, Thailand Selatan, Filipina Selatan, atau Brunei Darussalam.


“Tidak spesifik Indonesia, karena dulu yang disebut Al-Jawi atau Al-Jawiyin dalam kitab-kitab lama itu termasuk dari Patani, sekarang Thailand Selatan, ada ulamanya Syekh Daud al-Fatani yang terkenal sekali,” jelas Dadi.


Ia melanjutkan, ada beberapa catatan sejarah dan legenda mengenai masuknya Islam ke tanah Pasundan, termasuk yang dilakukan keturunan Sayidina Ali ra. Tetapi masalahnya cerita itu tak terverifikasi kebenarannya. “Kalau manutnya pada history, ya seperti itu. Kecuali kalau mau nulis dari perspektif legenda atau cerita rakyat lain lagi, cuma kan itu susah terverifikasi,” ungkap Dadi sembari memberikan sejumlah referensi buku tentang masalah tersebut.


Sementara itu, dalam cerita Melayu, seperti ‘Hikayat Hang Tuah’ yang ditulis Bot Genoot Schap pada abad ke-17, disebutkan bahwa Laksamana Hang Tuah mendapat perintah dari Raja Malaka untuk menemui Sultan Mardha Syah Allodin Rum di Turki. Rombongan Hang Tuah menggunakan 42 kapal dengan 1.600 awak. Hang Tuah melanjutkan perjalanan menuju Mekah dan Madinah sekitar tahun 886 H/1481 Masehi. Hang Tuah bertemu dengan pemimpin kedua Kota Suci itu, putra Zainal Abidin, dan sempat menziarahi makam Siti Hawa di Jeddah sebelum pulang.


Bila merujuk pada buku ‘Historiografi Haji Indonesia’ (2007) karya M Saleh Putuhena, Ludivico Varthema asal Roma, Italia, pernah masuk Mekah dengan menyamar sebagai orang muslim pada 1503. Ia menyaksikan di kota itu kehadiran orang yang berasal dari Lesser East Indies (India Timur Kecil/Nusantara). Sedangkan penyelidik rempah-rempah asal Portugis bernama Diego Lopesde Sequeira melihat orang Nusantara yang menumpang kapal dagang dari Jawa, Malaka, Aceh, dan Madagaskar menuju Jeddah pada 1508-1534.


Kapal dagang itu sering dikejar dan dihancurkan armada laut Portugis di sekitar Laut Merah, Laut Arab, dan Samudra India. Kapal dagang asal Nusantara selalu dilindungi armada laut Turki Utsmani. Diakui Saleh, pada zaman itu orang Nusantara tak mengkhususkan niat berhaji, tetapi diawali hanya untuk berdagang dan menimba ilmu agama Islam kepada para syekh atau guru agama di Kota Mekah.


“Tetapi mereka bukan jemaah haji yang sengaja berangkat dari Nusantara untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka adalah pedagang, utusan sultan, dan pelayar yang berlabuh di Jeddah dan berkesempatan untuk berkunjung ke Mekah," tulis Saleh.


Berikutnya, Martin van Bruinessendalam bukunya ‘Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia’(1995) menyebutkan, Mekah al-Mukaromah sebagai sumbu bumi yang didatangi orang Islamdari segala penjuru dunia. Mekah disebut sebagai pusat kosmis titik pertemuanantara dunia yang tidak kekal ini dan alam lain di luar dunia.


Orang Jawa atau Asia Tenggara, sebelum datangnya Islam, kerap mendatangi tempat pusat kosmis lain untuk mencari ilmu dan legitimasi kekuasaan politik. Di antaranya menziarahi kuburan para leluhur, gunung, gua, hutan, atau tempat angker. Setelah Islam masuk, Mekah dan Madinah menjadi tujuan untuk mencari ilmu karena kedua kota suci itu menjadi pusat keilmuan Islam.


“Kita tidak tahu kapan orang Jawa yang pertama naik haji. Tetapi, menjelang pertengahan abad ke-17, raja-raja Jawa mulai mencari legitimasi politik di Mekah,” terang Martin lagi.


Pada tahun 1630-an, Raja Banten dan Raja Mataram mengirim utusan ke Mekah, antara lain mencari pengakuan dan meminta gelar ‘sultan’ pada tahun 1638-1641. Agaknya raja-raja tersebut beranggapan bahwa gelar yang diperoleh dari Mekah akan memberi sokongan supranatural terhadap kekuasaan mereka. Sebetulnya, di Mekah tidak ada instansi yang pernah memberi gelar kepada penguasa lain.


Para raja Jawa tadi rupanya menganggap bahwa Syarif Besar, yang menguasai Haramain (Mekah dan Madinah), memiliki wibawa spiritual atas seluruh Dar Al-Islam (negara Islam). Selain gelar sultan, mereka membawa berbagai hadiah dari syarif untuk raja, antara lain potongan kiswah (kain penutup Ka’bah), yang dianggap sebagai azimat.


Beberapa puluh tahun kemudian, untuk pertama kalinya, pangeran Jawa menunaikan haji, yaitu putra Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, Abdul Qahar, pada 1674. Setelah pulang, ia digelari sebagai Sultan Haji. “Fungsi haji sebagai legitimasi politik terlihat jelas sekali dalam babad ‘Sajarah Banten’, yang dikarang pada paruh kedua abad ke-17,” pungkas Martin. (dw/dx)