Bulan Agustus ada masih hujan? Ini penjelasan BMKG -->

Advertisement

Loading...

Bulan Agustus ada masih hujan? Ini penjelasan BMKG

By: M Abdul Rosyid
Thursday, 20 August 2020

Ilustrasi.

Saat ini Indonesia telah 81 persen wilayahnya berada pada musim kemarau, sedangkan 19 persen masih musim hujan. 

Jakarta - Bulan Agustus ko masih ada hujan? Mungkin ini menjadi pertanyaan banyak masyarakat khususnya yang tinggal di Pulau Jawa, karena seminggu terakhir hujan dengan intensitas beragam masih ditemui. Padahal bulan Agustus ini biasanya merupakan musim kering atau kemarau.

Menjawab pertanyaan tersebut,Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) memberikan penjelasannya.
Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agie Wandala Putra membenarkan saat ini masih ada sebagian wilayah di Indonesia yang belum memasuki musim kemarau, bahkan sebaliknya tengah berada di musim hujan, dilansir Kompas.

"Saat ini Indonesia telah 81 persen wilayahnya berada pada musim kemarau, sedangkan 19 persen masih musim hujan. Seperti di Maluku yang saat ini musim hujan, sedangkan di Jawa kemarau," sebut Agie (19/8/2020).

Dipengaruhi 3 pola hujan

Perbedaan musim itu dipengaruhi oleh perbedaan pola hujan di Indonesia. Ada 3 pola hujan, yakni ekuatorial, monsunal, dan lokal.

Pola hujan ekuatorial dan lokal masih berpotensi terjadi curah hujan tinggi di bulan-bulan Agustus-September. Untuk wilayah dengan tipe hujan lokal, puncak musim penghujan ada di bulan Juli dan Agustus.

Sementara wilayah yang termasuk memiliki tipe hujan monsunal akan banyak mengalami musim kemarau. Puncak musim hujan di sini adalah Desember-Februari, sementara puncak musim kemarau ada di Juni-September.
Seluruh wilayah Pulau Jawa masuk dalam kategori ini.

Berikut ini pembagian wilayah Indonesia berdasarkan tipe pola hujan yang ada di Indonesia. Pembagian pola hujan di wilayah Indonesia, wilayah berwarna hujau adalah ekuatorial, kuning adalah monsunal, dan merah adalah lokal.

Wilayah berwarna hijau memiliki tipe hujan ekuator, kuning bertipe hujan monsunal, dan merah adalah tipe hujan lokal.

"Yang merah adalah wilayah dengan pola iklim lokal. Puncak hujannya biasa di Juni-Agustus, jadi ya memang lazimnya hujan di sana," sebut Agie.

Namun, berbicara Jawa yang seluruh wilayahnya memiliki tipe hujan monsunal dan saat ini sudah memasuki musim kemarau, mengapa hujan masih saja turun di sejumlah wilayahnya dalam seminggu terakhir?

"Hal ini sebetulnya lazim dan biasa saja, namun yang akan saya angkat adalah Indonesia memiliki faktor pemicu hujan yang sangat banyak. Salah satunya di Indonesia bagian barat, termasuk di Pulau Jawa, terdapat sebuah fenomena yang disebut sebagai aktivitas gelombang tropis," jelas Agie.

Fenomena ini biasa disebut sebagai gelombang tropis ekuator atau juga gelombang kelvin. Gelombang tropis ekuator ini memicu pertumbuhan awan hujan sehingga menjadi lebih intensif.

"Akibatnya hujan sempat terjadi di beberapa wilayah, bahkan intensitasnya lebat," sebut dia.
Wilayah dengan tipe hujan monsunal ini memiliki suhu permukaan laut yang hangat. Diperkirakan, hujan masih akan terjadi hingga sepekan ke depan.

"Untuk seminggu ke depan hujan masih cukup intens dan terjadi di beberapa wilayah," ucap Agie.

Wilayah berpotensi hujan

Berikut ini daftar wilayah yang berpotensi terjadi dominasi hujan lebat:
- Aceh
- Sumatera Utara
- Sumatera Barat
- Riau
- Kep. Riau
- Jambi
- Bengkulu
- Kep. Bangka Belitung
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Selatan
- Sulawesi Barat
- Sulawesi Tengah
- Sulawesi Utara
- Maluku Utara
- Maluku
- Papua Barat
- Papua

Anomali suhu muka laut

Sementara itu,Prakirawan senior dari BMKG, Ida Pramuwardani dalam program Ngaca (Ngobrol Asik tentang Cuaca) yang disiarkan di Instagram BMKG menekankan musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekal.
Namun juga sebaliknya, musim hujan bukan berarti tidak ada panas sama sekali.
Hujan dengan intensitas tinggi masih terjadi di Indonesia, menurutnya karena ada beberapa faktor.

"Yang pertama adalah hangatnya suhu muka laut dan anomali suhu muka laut di wilayah Indonesia," ujar Ida.

Ini menyebabkan munculnya suplai uap air terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. Faktor kedua adalah aktifnya gelombang atmosfer atau gelombang ekuator di atas wilayah Indonesia, ini juga berkontribusi terhadap aktivitas pembentukan awan.

"Faktor ketiga adalah kondisi atmosfer yang labil, yang didukung oleh wilayah topografi Indonesia yang mampu mendukung proses pertumbuhan awan," jelas Ida.

Interaksi antar faktor meteorologis tersebut bisa menyebabkan potensi hujan tinggi meski di tengah musim kemarau.