Pecemaran udara, limbah tempe di alirkan ke tempat warga

Advertisement

Loading...

Pecemaran udara, limbah tempe di alirkan ke tempat warga

Saturday, 21 March 2020


Belitung, BN News- Sesuai Undang - Undang (UU) Republik Indonesia. Peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 18 tahun 1999. Tentang pengolahan limbah, bahan berbahaya dan beracun, (21/3/2020).

Lingkungan hidup perlu dijaga kelestariannya sehingga tetap mampu menunjang pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan. Bahwa dengan meningkatnya pembangunan di segala bidang, khususnya pembangunan di bidang industri, semakin meningkat pula jumlah limbah yang dihasilkan termasuk yang berbahaya dan beracun yang dapat membahayakan keselamatan manusia setempat.

Berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, perlu dilakukan penyesuaian dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1994. Pemerintah Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pengelolaan Limbah Berbahaya dan Beracun.

Menurut Undang-Undang (UU)  Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pada Pasal 163 tentang Kesehatan Lingkungan : Upaya kesehatan lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik fisik, kimia, biologi dan kelangsungan hidup masyarakat.

Pantawan awak media BNNews.top Selasa (17/03/20). Salah satu usaha  tempe milik warga di duga tidak mengolah limbahnya dengan baik. Bila di biarkan terus menerus, tentunya bisa mengancam kesehatan manusia, mahluk hidup dan tumbuhan lainnya.

Jelas UU tersebut hanya menjadi isapan jempol belaka. di himpun dari laporan warga, produksi usaha tempe di daerah jalan Melati Pilang, Desa Pilang, Rt 007, Rw 002. Kini berhari-hari mengeluarkan aroma busuk yang menyengat hingga kerumah-rumah warga. 

Ditegaskan, warga yang tak ingin disebut namanya itu mengatakan, olahan limbah kacang kedelai yang di jadikan tempe itu nampaknya tidak di olah sesuai prosudur yang berlaku.

"Limbah tersebut sengaja mereka aliri di belakang rumah (Pemilik tempe) yang memang di belakang rumahnya masih hutan berantara ,air limbah bergelimang, ini lah yang menyebabkan bau tak enak.

Selain itu, menurut warga yang tak ingin di sebut namanya itu, pernah melihat limbah tersebut di buang di daerah Air Paser yang masih di daerah desa Pilang.

Di tempat terpisah, pemilik usaha tempe Jalan Melati Pilang, Desa Pilang Edi saat di hubungi melalui telpon menjelaskan, belum bisa dijumpai.

"Hari ini belum bisa saya, soalnya masih di luar," ucap Edi.

Di jumpai di lokasi, salah satu pekerja yang tak mengatakan namanya itu mengakui, limbah olahan tempe setiap dua hari sekali di buang menggunakan tengki pingwin,lalu di buang di aliran air jeramba pilang ujar edi pemilik usaha tersebut. (Nov)