Pemkab Tangerang Diminta Perhatikan Masyarakat Miskin -->

Advertisement

Loading...

Pemkab Tangerang Diminta Perhatikan Masyarakat Miskin

By: M Abdul Rosyid
Wednesday, 16 October 2019



Mang Akol begitu panggilan akrabnya, hidup sakit-sakitan dan harus bertahan hidup dalam gubuknya seluas 3x3 meter.

BNNews.top - Nasib malang dialami pria paruh baya di Jayanti, Kabupaten Tangerang, Banten. Aska (52), warga Kampung Sukasari RT 07/RW 02, Desa Pabuaran, Kecamatan Jayanti, tinggal di sebuah gubuk kecil selama 13 tahun.

Gubuk yang sudah ia tinggali tak lebih baik dari kandang ayam.

Gubuk reotnya berlantai tanah, berdinding bilik bekas yang sudah berlubang, serta ranting pohon. Tak ada perabotan, kecuali kasur tipis dan lusuh, serta tungku memasak dan beberapa alat dapur serta gelas dan piring makan.

Rumah Mang Akol terpencil di antara sawah dan irigasi, hanya dikelilingi comberan dan empang.

"Sekitar 13 tahun saya tinggal di sini sambil sakit-sakitan. Tinggal sendiri untuk makan sehari-hari juga sendiri."

"Cuma bergantung dari pemberian keluarga sama tetangga," ujar Mang Akol pelan kepada TribunJakarta.com, Rabu (16/10/2019).

Tidur hanya berselimutkan tenda biru bekas, ia tidak bisa lagi bekerja lantaran kondisinya sudah lumpuh.

Semash masih bertenaga, Mang Akol masih bisa mencari nafkah dengan kerja serabutan dan kuli bangunan.

"Tapi sekarang sudah enggak bisa sama sekali, karena lumpuh total," sambung dia.

Mang Akol sudah sulit bergerak, ditambah kondisi tubuhnya semakin sakit parah hari demi hari. Pantauan TribunJakarta.com, rumahnya terlihat usang. Bahkan dinding rumah terdapat lubang di mana-mana.

Lebih mengkhawatirkan pondasi gubuknya mulai keropos dan tak sedikit genteng pecah. Bisa dibayangkan jika hujan deras bagaimana kondisi di dalam rumah Mang Akol.

Belum terik matahari dan debu yang berterbangan siang hari di musim kemarau. Udara malam ikut-ikutan leluasa menggigit tubuh Mang Akol yang hidup sebatangkara itu.

Mang Akol pernah bekerja merantau ke Banjarmasin sebagai buruh serabutan pada 1990. Nahas, ia mengalami musibah pada 2007 sehingga badannya lumpuh total, akibat sering mandi malam.

Pada 2006, Mang Akol memiliki istri di Banjarmasin, Kalimantan Timur, dan mempunyai dua orang anak.

Anak pertama bernama Rionaldo (23) dan Agus Jaya (14). Sejak menderita lumpuh total pada 2007, semua istri dan anaknya kabur ke Banjarmasin.

Sudah 13 tahun lamanya sampai hari ini tidak ada komunikasi sama sekali.

Sementara itu, Ketua RT 07 Siman berharap pemerintah daerah dapat membantu kondisi Mang Akol dengan membedah rumahnya agar layak huni.

Potret kehidupan Mang Akol hanya gambaran kecil masyarakat kurang mampu di Kabupaten Tangerang.

Upaya Pemerintah mengentaskan kemiskinan harus benar-benar terwujud dan bukan hanya slogan saja.

"Pemerintah Kabupaten Tangerang bersama instansi terkait diminta untuk lebih proaktif memperhatikan kondisi kehidupan masyarakat di daerah ini," ucap Siman.

"Khususnya kepada mereka yang masih membutuhkan sentuhan bantuan dari pemerintah dan para dermawan," dia menambahkan.